Jabal magnet di Madinah

jabal-magnet

Jabal Magnet di Madinah

Merasakan Bus Ditarik Bumi

Oleh:
Syafnijal Datuk Sinaro

MADINAH – Selain air zam-zam di Mekah, terdapat satu lagi fenomena alam yang ada di Arab Saudi, yakni Jabal (gunung) Magnet. Lokasinya terletak sekitar 30 km dari Kota Madinah menuju arah Kota Tabuk. Jabal Magnet berada di luar daerah haram sehingga bebas dikunjungi warga nonmuslim.
Jika dilihat secara kasatmata, sebetulnya tidak jauh beda dengan daerah lainnya, yakni berupa bukit-bukit batu gersang seperti yang banyak mengelilingi Kota Madinah. Hanya ketika kendaraan kita sampai di jalan raya di antara perbukitan tersebut, baru akan merasakan ada suatu keanehan. Sebab jalan sepanjang sekitar 4 km di kawasan perbukitan ini diyakini memiliki daya magnet. Mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi, meskipun persneling mobil dalam posisi netral.


Hal itu dirasakan SH yang baru-baru ini melakukan perjalanan ke kawasan tersebut. Saat bus yang ditumpangi menuju arah selatan, Dalimi, sopir bus Saptco, mengaku kendaraan menjadi sangat berat meskipun medan jalan tidak begitu menanjak. Bahkan, makin lama ia terpaksa memindahkan persneling bus ke posisi satu karena bus kesulitan bergerak hingga kecepatannya hanya 15 hingga 20 km/jam. Padahal, dengan kondisi jalan yang tidak terlalu menanjak, seharusnya dengan persneling dua bus masih kuat.

Dengan laju yang berat itu, Dalimi yakin ada pengaruh magnet yang menahan gerakan bus. Sebaliknya ketika bus berbalik arah, sopir yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat, ini mengaku bus melaju meskipun persneling dalam posisi netral. Kian lama kecepatan bus makin tinggi. Bahkan, baru sekitar 3 km, kecepatan bus sudah mencapai 120 km/jam. Memang medan jalan menuju Kota Madinah agak menurun, namun dengan kondisi demikian tidak wajar akselerasi bus begitu cepat. Bahkan, sebetulnya laju kendaraan bisa lebih tinggi lagi, tapi Dalimi tidak berani lalu mengeremnya karena tidak mampu mengendalikannya.

Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Tapi jika dirasakan, pengaruh magnet mulai bila kendaraan melaju dari bendungan air tak jauh dari putaran hingga bukit menjelang belokan ke Madinah. Setelah sekitar melaju 4 km, kecepatan bus mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Akhirnya, bus memiliki kecepatan lambat saat berada di depan bendungan air.

Belum diketahui secara jelas apa hubungan antara magnet dengan laju kendaraan. Supriyono, salah seorang peserta ibadah umrah dari Lampung yang merupakan Sarjana Fisika dari Universitas Lampung (Unila), memperkirakan batu yang mengandung biji magnet tersebut berada di bawah jalan yang dilewati, bukan di dalam bukit di kedua ujung jalan raya.
Alasannya, jika medan magnetnya terdapat di perbukitan di ujung jalan, tentu makin dekat ke bukit pasti daya tariknya makin kuat sehingga akhirnya bus akan menempel (lengket) di perbukitan. “Tapi ini kan tidak, hanya dalam radius 4 km itu terdapat daya tarik magnet, makin ke ujung makin lemah,” ujar Supriyono menganalisis.

Karena ada tarik-menarik (pusingan) medan magnet di dalam batu bawah jalan maka kendaraan yang terdiri dari baja di atasnya tertarik ke arah tertentu. Buktinya, tarikan medan magnet hanya terasa kuat ketika mulai terlihat bendungan air di sebelah kiri jalan hingga 4 km ke arah luar Kota Madinah. Batasan akhirnya ada percabangan jalan di samping gunung berbatu yang cukup tinggi.

Kebun Kurma
Menurut Haris, pemandu dari Biro Perjalanan Manasik Prima, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan. Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang.

“Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan,” ungkapnya.
Sejak itu, cerita tersebut menyebar ke berbagai pelosok dan ramai dikunjungi warga, baik dari Arab sendiri maupun dari negara lain. Bahkan menurut ceritanya, sebagian warga ada yang melakukan berbagai ritual agama di sana. Namun, karena di lokasi ini bukan merupakan tempat untuk melakukan ritual, pemerintah Arab Saudi melarangnya dan menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata semata.
Untuk itu, pemerintah Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan tarikan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah.

Selain itu, di kedua sisi jalan sudah dibangun tenda-tenda untuk pengunjung dan sudah ditanam pohon-pohon agar kelihatan lebih hijau. Bahkan, di sebuah dataran yang berpasir, terdapat arena bermain mobil-mobilan untuk anak-anak. Kawasan ini juga sudah dilengkapi dengan sejumlah toilet untuk umum.

Jalan dari Kota Madinah menuju kawasan ini juga sudah lebar dan mulus, sehingga untuk sampai ke lokasi tidak sampai 30 menit dengan mobil atau bus. Pemandangan di kedua sisi jalan menuju kawasan ini juga cukup indah dan menakjubkan.
Sebelah kanan dan kiri jalan dikelilingi oleh gunung berbatu. Terdapat juga areal peternakan domba, unta, serta kebun kurma yang membuat gurun menjadi agak menghijau.
Kini Jabal Magnet sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk melihat dan merasakan adanya fenomena alam yang masih misterius. Bahkan, orang-orang dari negara asing saat berkunjung ke Madinah jarang yang melewatkan peristiwa langka ini. Silakan mencoba!n
sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0709/13/kesra03.html
Sebelum memperbincangkan magnetiknya, coba dilihat batuannya dulu.

Kota Madinah dan sekitarnya secara geologis berdiri di atas Arabian Shield yang tua (umur 700-an juta tahun) yang dihiasi endapan lava alkali basaltik (thoelitic basalt) seluas 180.000 km persegi yang usianya muda (muncul 10 juta tahun silam dengan puncak intensitas 2 juta tahun silam). Lava yang bersifat basa ini muncul ke permukaan Bumi dari kedalaman 40-an km melalui zona rekahan sepanjang 600 km yang dikenal sebagai Makkah-Madinah-Nufud volcanic line, karena membentang dari dekat Makkah di selatan, melintasi Madinah dan berujung di daratan Nufud di utara. Sehingga vulkanisme Arabia merupakan vulkanisme hotspot seperti halnya vulkanisme Kepulauan Hawaii dan sangat bertolak belakang dengan vulkanisme produk subduksi antar lempeng (seperti di Indonesia) yang menghasilkan magma bersifat asam.

Banyak gunung berapi terbentuk di sepanjang zona rekahan ini, seperti Harrah Rahat, Harrah Ithnayn, Harrah Uwayrid dan Harrah Khaybar (betul, Harrah Khaybar adalah perbukitan berbatu tandus yang menjadi lokasi benteng-benteng suku Yahudi dalam Perang Khaybar). Namun jangan bayangkan gunung-gunung ini berbentuk kerucut yang menjulang tinggi dan eksotis sebagaimana gunung-gunung berapi di Indonesia. Karena vulkanisme Arabia lebih didominasi erupsi efusif (leleran) sehingga gunung berapi yang muncul bersifat melebar, dengan puncak-puncak yang rendah dan ‘jelek’. Kompleks semacam ini lebih cocok disebut volcanic field (atau harrah, dalam bahasa Arab-nya).

Harrah Rahat adalah bentukan paling menarik. Dengan panjang 310 km, ia membentang dari utara Madinah hingga ke dekat Jeddah dan mengandung sedikitnya 2.000 km kubik endapan lava yang membentuk 2.000 lebih kerucut kecil (scoria) dan 200-an kawah maar. Selama 4.500 tahun terakhir Harrah Rahat telah meletus besar sebanyak 13 kali dengan periode antar letusan rata-rata 346 tahun.
Letusan besar terakhir terjadi pada 26 Juni 1256 CE, yang memuntahkan 500 juta meter kubik lava lewat 6 kerucut kecilnya selama 52 hari kemudian. Lava ini mengalir hingga 23 km ke utara dan hampir menenggelamkan kota suci Madinah yang letaknya memang lebih rendah, jika saja tidak ada mukjizat yang membuat aliran lava berhenti ketika jaraknya tinggal 4 km saja dari Masjid Nabawi. Jangan bandingkan letusan itu dengan, misalnya, Merapi 2006 yang ‘hanya’ memuntahkan 8 juta meter kubik lava saja.

Nah, basalt, secara umum tersusun dari mineral piroksen, olivin, ilmenit dan feldspar. Tiga mineral pertama mengandung besi namun tidak dalam porsi dominan seperti Fe3O4. Memang dimungkinkan mineral-mineral itu melapuk dan kemudian besi-nya membentuk Fe3O4 sendiri dan terkonsentrasi di Jabal Magnet hingga menghasilkan anomali magnetik mengingat Fe3O4 memiliki sifat ferromagnetik.

Namun ini sulit dibayangkan mengingat umur basalt di sekitar Madinah masih sangat muda, tidak lebih dari 2 juta tahun. Terlebih dengan sumber panas (magma) di bawahnya, memungkinkan besi melampaui titik Curie terutama saat letusan sehingga kehilangan sifat kemagnetannya.

Anomali magnetik memang ada di sebelah utara Madinah, yakni di dekat dataran tinggi Nufud. Namun anomali ini lebih terkait dengan struktur sirkular al-Madafi yang dicurigai merupakan kawah produk tumbukan benda langit jutaan tahun silam, dimana kemungkinan benda langit tersebut adalah meteorit siderit yang sangat kaya akan besi (kandungan besi-nya bisa mencapai 90 % berat). Namun
Jabal Magnet terpisah cukup jauh dari al-Madafi sehingga sulit untuk mengaitkan keduanya.

Memang semuanya perlu diteliti lebih lanjut. Perlu ada survei magnetik dan gravitasi di Jabal Magnet. Hanya, sependek pengetahuan saya, fenomena di Jabal Magnet lebih mirip dengan fenomena sejenis di Gunung Kelud, yang tempo hari telah diteliti secara intensif oleh pak Amin Widodo dkk dari ITS. Fenomena Gunung Kelud sendiri disimpulkan merupakan ‘ilusi optik’ karena pengaruh soil creep yang membuat tegakan pohon-pohon di sisi jalan itu menjadi berbeda.

Di Jabal Magnet, ‘ilusi optik’ itu mungkin lebih dikontrol oleh gerakan dari bawah permukaan Bumi. Pada 1999 silam otoritas Saudi Geological Survey (SGS) sempat dikejutkan dengan adanya aktivitas swarm (gempa kecil terus menerus) di Harrah Rahat, pertanda naiknya sejumlah besar magma. Ini memaksa SGS memasang sejumlah seismometer. Dan di sekitar Madinah diketahui betapa aktifnya
kegempaan Harrah Rahat, terkait dengan migrasi magma tersebut, yang memproduksi ratusan gempa-gempa kecil tiap hari dengan magnitude 1 – 3 skala Richter dan adakalanya mencapai 4 skala Richter. Barangkali migrasi magma tadi juga menyelusup ke bawah Jabal Magnet dan menghasilkan perubahan kontur permukaan.

Salam,

Ma’rufin

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.Both comments and pings are currently closed.
11 Responses
  1. I can see that you are making use of my published articles. However, I might point out, that although you …

  2. Jim Richison says:

    I have read a few of the articles on your website now, and I really like your style of blogging. I added it to my favorites blog site list and will be checking back soon. Please check out my site as well and let me know what you think.

  3. This is a really good post, but I was wondering how do I suscribe to the RSS feed?

  4. I have read a few of the articles on your website now, and I really like your style of blogging. I added it to my favorites weblog list and will be checking back soon. Please check out my site as well and let me know what you think.

  5. Mapa Panama says:

    I am brand-new to blogging and actually enjoyed your site. I am going to bookmark your blog and keep checking you out. Thanks for sharing your site.

  6. I’ve been visiting your blog for a while now and I always find a gem in your new posts. Thanks for sharing.

  7. Wakacje says:

    Thank You For This Post, was added to my bookmarks.

  8. noni says:

    Very Interesting Post! Thank You For Thi Information!

  9. trims buat postingani ini, mampir juga ke blog saya ya.

  10. postinganya keren, bisa saya taruh ga artikel ini di website saya? nanti saya link balik sumbernya

  11. khurin aini says:

    Masya ALLAH its really funtastik,,,,